Library 4.0 : Peran Perpustakaan Memaksimalkan Pelayanan Berbasis Digitalisasi

BeritaOpiniKomentar Dinonaktifkan pada Library 4.0 : Peran Perpustakaan Memaksimalkan Pelayanan Berbasis Digitalisasi

Saat ini kita sedang menghadapi Revolusi Industri 4.0. Perpustakaan pun mau tak mau harus beradaptasi serta berevolusi sehingga tidak terlindas perubahan zaman.Di era digital, perpusatakaan telah mengalami berbagai macam revolusi. Empat revolusi tersebut adalah collection centric, pada revolusi pertama ini perpustakaan menekankan layanannya pada seberapa banyaknya koleksi yang mereka miliki. Koleksi cetak mendominasi perpustakaan dan tugas utama perpustakaan adalah mengelola koleksi. Revolusi kedua adalah user centric. Perpustakaan tidak lagi fokus terhadap koleksi tetapi pada pemustaka dengan menerapkan otomasi. Revolusi ketiga, perpustakaan melakukan promosi perpustakaan; mengadakan pemberian user education; pengembangan space untuk pemustaka; perpustakaan memiliki corner sebagai fasilitas baru perpustakaan. Revolusi ketiga adalah digital shift. Pada revolusi ketiga ini perpustakaan telah memberi perhatian pada teknologi informasi terkait dengan OPAC dan website, perubahan fasilitas bagi pemustaka, peningkatan jumlah informasi dalam beragam format, sehingga memunculkan digital repository. Revolusi keempat adalah extended roles, dengan kegiatan intinya menyediakan sumber informasi namun perpustakaan telah masuk menjadi bagian dari scholarly dan scientific lifecycle. Perpustakaan sebagai Pengelola komunikasi ilmiah e-journal. Komunikasi analog ke digital (Perpustakaan Universitas Airlangga, 2017).


Pergeseran peran perpustakaan dari tempat atau sumber menjadi sistem sangat menekankan pentingnya perpustakaan untuk dapat bertindak lebih atraktif kepada pengguna dalam diseminasi informasi. Perpustakaan pun mulai berinovasi membangun dan memperkuat pelayanan berbasis digitalisasi dengan memanfaatkan konsep artificial intellegence, internet of things dan big data. Perbedaan yang mendasar antara perpustakaan manual dan digital adalah keberadaan koleksinya dimana koleksi digital tidak harus ada di perpustakaan tapi cukup tersimpan didalam sebuah server atau storage digital. Maka mulailah kita mengenal pelayanan perpustakaan seperti e-Library, e-Books, e-Journal, e-bibliografi (OPAC) segala macam informasi bisa kita dapatkan hanya dengan sekali ”klik” Halaman demi halaman kertas akan berubah wajah ke format digital. Melalui kemasan informasi berbasis web terciptalah apa yang disebut sebagai perpustakaan elektronik, perpustakaan digital, perpustakaan virtual, perpustakaan maya yang mana pada intinya di sini pengguna bisa mendapatkan informasi melalui web, wujud bangunan tidak lagi penting dengan hadirnya aplikasi i-Jakarta, i-Jateng, i-Pusnas, dan sejenisnya anda tidak perlu lagi datang ke perpustakaan untuk meminjam buku dengan mendowload aplikasi tersebut membuat anda merasa dimanjakan dalam peminjaman buku ataupun pengembalian secara otomatis ketika masa waktu peminjaman sudah usai. Perpustakaan haruslah bisa menjembatani kebutuhan bacaan yang bagus dan berkualitas dengan target memberikan kepuasan membaca bagi para professional, mahasiswa dan masyarakat umum secara gratis. Koleksi pustaka digital juga harus dikembangkan tidak sematamata buku, majalah, ataupun jurnal tetapi konten lain yang dapat memuaskan dahaga pengetahuan bagi pemustaka. Keberadaan perangkat Virtual Reality memungkinkan perpustakaan untuk mempunyai koleksi pustaka yang lebih menarik dan tampak nyata bagi masyarakat (Guan & Liang, 2015).

Sumber Pustaka
https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0099133315001780
https://www.suaramerdeka.com/smcetak/baca/85603/library-40-untuk-perpustakaan-masa-depan
CYBER LIBRARIAN: KONSEP PUSTAKAWAN INDONESIA 2050
MR Ridlo, U Farida – BIBLIOTIKA: Jurnal Kajian Perpustakaan dan Informasi, 2019

Share this :

Comments are closed.

Copyright © 2017 PDAI - Universitas Medan Area